Selasa, 07 Oktober 2014

Refleksi Field Trip “Kampung Betawi” Kelompok Pelangi


Pada 3 Oktober 2014 sekitar pukul 10.00 kami tiba di kampung betawi. Terlihat dari lingkungan sekitar bahwa unsur 'betawi' sangat terlihat disana, seperti rumah rumah penduduk, jajanan jajanan yang di jual di sekitar tempat wisata, kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat, serta aksen berbicara masyarakat yang ada disana. Sungguh suasana yang berbeda jauh dengan keadaan di kota jakarta yang sangat padat. Tampak jelas sepertinya daerah perkampungan betawi tidak terkena unsur modernisasi, karena masih sangat tradisionalnya kehidupan masyarakat disana. Namun seperti yang kita ketahui sekarang, masyarakat lebih senang mengisi waktu libur mereka untuk pergi ke mall atau cafe, dari pada ke daerah wisata seperti kampung betawi. Otomatis dimana daerah tersebut menjadi sepi dan penghasilan para penjual semakin lama semakin menurun.
Kami pikir perlu peran besar dari pemerintah disini. Dimana untuk mengelolah tempat wisata betawi ini agar menarik untuk dikunjungi masyarakat, dan merawat warisan warisan betawi yang ada di dalamnya agar tidak hilang dengan seiring modernisasi berkembang.

Minggu, 05 Oktober 2014

KEBEBASAN


KEBEBASAN

      Jiwa dan kebebasan yaitu Eksistensi jiwa dalam tubuh memampukan manusia untuk menghadirkan diri secara total di dunia dan memungkinkan manusia menentukan perbuatannya. 

      Determinisme: aliran yang menolak kebebasan sebagai kenyataan hidup bagi manusia.
      Seluruh kegiatan manusia di dunia berjalan menurut keharusan yang bersifat deterministic:
o   Determinisme fisik-biologis
o   Determinisme psikologis
o   Determinisme sosial
o   Determinisme teologis 

      Pengertian khusus/kebebasan eksistensial:
  •  Penyempurnaan diri
  •  Kesanggupan memilih dan memutuskan
  • Kemampuan mengungkapkan berbagai dimensi kemanusiaan
      Jenis-jenis kebebasan :
  • Kebebasan horizontal dan kebebasan vertikal
  • Kebebasan eksistensial (kebebasan positif, lambang martabat manusia) dan kebebasan sosial (terkait dengan orang lain)
  • Nilai humanistik dalam kebebasan eksistensial :
o   Melibatkan pertimbangan
o   Mengedepankan nilai kebaikan
o   Menghidupkan otonomi
o   Menyertakan tanggung jawab 

      4 alasan adanya pembatasan kebebasan sosial:
  • Menyertakan pengertian
  • Memberi ruang bagi kebebasan eksistensial
  • Menjamin pelaksanaan keadilan bagi masyarakat
  • Terkait dengan hakikat manusia sebagai mahkhluk sosial

MANUSIA DAN AFEKTIVITASNYA


      Afektivitaslah yang membuat manusia ‘berada’ di dunia, berpartisipasi dengan orang lain. Afektifitaslah yang mendorong orang untuk mencintai, mengabdi dan menjadi kreatif.
 
      Cinta adalah buah afektivitas yang positif. 
 
      Benci adalah buah afektivitas negatif. Sebenarnya cintalah yang paling dasariah.
 
      Dibedakan ‘perasaan’ dan ‘emosi’.Kehidupan afektif memperlihatkan berbagai macam cara yang berbeda-beda  menurut bagaimana subyek menguasai obyek.
 
      Perbuatan afektif berbeda dengan ‘perbuatan mengenal’ karena perbuatan afektif itu lebih pasif, sedangkan pada ‘perbuatan mengenal’ subyek membuka diri pd obyek.
 
 

Jiwa dan Badan


Jiwa dan Badan

      Badan dan jiwa = satu kesatuan yang membentuk pribadi manusia. Kesatuan keduanya membentuk keutuhan pribadi manusia.

      Monisme adalah aliran yang menolak pandangan bahwa badan dan jiwa merupakan dua unsur yang terpisah. Badan dan jiwa adalah satu substansi.

      Dualisme adalah badan dan jiwa adalah dua elemen yg berbeda dan terpisah.

      Empat cabang:
1)    Interaksionisme  yaitu fokus pada hubungan timbal balik antara badan dan jiwa.
2)   Okkasionalisme  yaitu memasukkan dimensi ilahi dalam membicarakan hubungan badan dan jiwa.
3)    Paralelisme yaitu sistem kejadian ragawi terdapat di alam, sedangkan sistem kejadian kejiwaan ada pada jiwa manusia.
4)   Epifenomenalisme = melihat hubungan jiwa dan badan dari fungsi syaraf.

      Badan Manusia : Badan adalah elemen mendasar dalam membentuk pribadi manusia.
 
      KESIMPULAN
     Realitas manusiawi – realitas prinsipial terbentuk dari dua elemen, yaitu material dan spiritual. Badan dan jiwa adalah satu kesatuan yang membentuk eksitensi manusia. Jiwa tidak bisa berfungsi baik  kalau tidak ada badan. Badan manusia bukan mekanistik, tapi dinamika dari jiwa itu sendiri.