Senin, 10 November 2014

Tugas akhir karya ilmiah Dian Margareth Saragih (705140057)

                       Perkembangan Kehidupan Sosial pada Remaja 

Latar Belakang
     Remaja merupakan salah satu tahapan pertumbuhan dan perkembangan dalam siklus kehidupan manusia. Masa remaja juga merupakan masa transisi dari anak-anak ke masa dewasa. Periode ini dianggap sebagai masa-masa yang sangat penting dalam kehidupan seseorang, khususnya dalam pembentukan kepribadian seseorang. Remaja akan dihadapkan pada tugas-tugas perkembangan yang harus dilalui sebagai persiapan memasuki tugas perkembangan tahap berikutnya (Hurlock, 1999). Dalam masa peralihan ini terjadi perubahan-perubahan yang sangat berarti dalam perkembangan manusia dimana karena adanya perubahan tersebut, tentu saja akan menimbulkan berbagai macam permasalahan yang dialami oleh remaja, baik secara fisik, psikis maupun sosial (Thornburg, 1982).

Pengertian remaja
            Pengertian remaja menurut Mapiare, (1982) berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Rentang usia remaja ini dapat di bagi dua bagian, yaitu usia 12/13 tahun sampai dengan 21/22 tahun adalah remaja akhir.
Piaget (Hurlock, 1991) yang mengatakan bahwa secara psikologis, remaja adalah suatu usia di mana individu menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia di mana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar. Memasuki masyarakat dewasa ini mengandung banyak aspek afektif, lebih atau kurang dari usia pubertas.

Pengertian hubungan sosial
            Pengertian hubungan sosial menurut (Anna Alisyahbana, dkk., 1984) hubungan sosial diartikan sebagai “cara-cara individu bereaksi terhadap orang-orang di sekitarnya dan bagaimana pengaruh hubungan itu terhadap dirinya”.
(Sunarto, 1998) berpendapat bahwa situasi kehidupan dalam keluarga berupa pol asuh orang tua, pada umumnya masih dapat diperbaiki oleh orang tua itu sendiri, tetapi situasi pergaulan dengan teman-teman sebayanya cenderung sulit diperbaiki. 

Perkembangan interaksi sosial remaja
            (Thibaut & Kelley, 1979) mendefinisikan interaksi sebagai peristiwa saling mempengaruhi satu sama lain ketika dua orang atau lebih hadir bersama, mereka menciptakan suatu hasil satu sama lain, atau berkomunikasi satu sama lain.
(Chaplin, 1979) juga mendefinisikan bahwa interaksi merupakan hubungan sosial antara beberapa individu yang bersifat alami yang individu-individu itu saling mempengaruhi satu sama lain secara serempak.
            (Homans & Shaw, 1985: 71) mendefinisikan interaksi sebagai suatu kejadian ketika suatu aktivitas atau sentimen yang dilakukan oleh seseorang terhadap individu lain diberi ganjaran (reward) atau hukuman (punishment) dengan menggunakan suatu aktivitas atau sentimen oleh individu lain yang menjadi pasangannya.
            Dalam uraian diatas dapat, disimpulkan bahwa interaksi mengandung pengertian hubungan timbal balik antara dua orang atau lebih, dan masing-masing orang yang terlibat di dalamnya memainkan peran secara aktif. 

                        Jenis-jenis interaksi menurut (Shaw, 1976, 100) terdapat 3 (tiga) jenis, yaitu: (a) interaksi verbal, terjadi apabila dua orang atau lebih melakukan kontak satu sama lain dengan menggunakan alat-alat artikulasi; (b) interaksi fisik, terjadi manakala dua orang atau lebih melakukan kontak dengan menggunakan bahasa-bahasa tubuh; (c) interaksi emosional, terjadi manakala individu melakukan kontak satu sama lain dengan melakukan curahan perasaan.

Karakteristik umum perkembangan remaja meliputi 5 (lima) aspek, yaitu: (a) kegelisahan yang di akibatkan karena remaja memiliki angan-angan yang tinggi dengan kemampuannya yang masih belum memadai, (b) pertentangan dikarenakan remaja yang berada pada situasi sedang mencari jati diri antara ingin melepaskan diri dari orang tua dan perasaan yang masih belum mampu untuk mandiri, (c) mengkhayal adalah keinginan untuk mencari kepuasan atau menyalurkan khayalannya melalui dunia fantasi, (d) aktivitas kelompok dilakukan untuk melakukan kegiatan secara berkelompok sehingga berbagai kendala dapat di atasi bersama-sama, (e) keinginan mencoba sesuatu apa yang sering dilakukan  oleh orang dewasa.  

Karakteristik perkembangan nilai, moral, dan sikap remaja
            Karakteristik perkembangan nilai adalah bahwa remaja sudah sangat merasakan pentingnya tata nilai dan mengembangkan nilai-nilai baru yang sangat diperlukan sebagai pedoman, pegangan, atau petunjuk dalam mencari jalannya sendiri untuk menumbuhkan indentitas diri menuju kepribadian yang semakin matang (Sarwono, 1989).
            Karakteristik perkembangan moral adalah bahwa sesuai dengan tingkat perkembangan kognisi yang mulai mencapaitahapan bepikir operasional formal, yaitu mulai mampu berfikir abstrak dan mampu memecahkan masalah-masalah yang bersifat hipotesis maka pemikiran remaja terhadap suatu permasalahan tidak lagi hanya terikat pada waktu, tempat dan situasi, tetapi juga pada sumber moral yang menjadi dasar hidup mereka (Gunarsa, 1988).
            Karakteristik perkembangan sikap adalah perubahan sikap yang menentang nilai-nilai dasar hidup orang tua dan orang dewasa (Gunarsa, 1988).   

Karakteristik perkembangan sosial remaja meliputi 4 (empat) aspek, yaitu: (a) berkembangnya kesadaran akan kesunyian dan dorongan akan pergaulan, (b) adanya upaya memilih nilai-nilai sosial, (c) meningkatnya ketertarikan pada lawan jenis, (d) mulai cenderungan memilih karier tertentu. 

Kesimpulan
     Perkembangan remaja adalah bahwa remaja merupakan peralihan dari masa anak menuju masa dewasa sehingga seringkali manunjukkan sifat-sifat karakteristik, seperti kegelisahan, kebingungan, karena terjadi suatu pertentangan, keinginan untuk mengkhayal, dan aktivitas berkelompok. Hubungan sosial bermula dimulai dari lingkungn rumah, kemudian berkembang lebih luas lagi ke lingkungan sekolah, dan di lanjutkan kepada lingkungan yang lebih luas lagi yaitu tempat berkumpulnya teman sebaya. Namun demikian, yang sering terjadi adalah bahwa hubungan sosial anak dimulai dari rumah, dilanjutkan dengan teman sebaya, baru kemudian dengan teman-teman sekolahnya. 

Daftar Pustaka
Ali, M., Asrori, M. (2014). Psikologi remaja perkembangan peserta didik. Jakarta: Bumi Aksara.
Dariyo, A. (2003). Psikologi perkembangan dewasa muda. Jakarta: Gramedia Widiasarana.
Gunarsa, S.D., Gunarsa, Y.S.D. (2004). Psikologi perkembangan anak dan remaja. Jakarta: Gunung Mulia.
Gunarsa, S.D. (2008). Dasar dan teori perkembangan anak. Jakarta: Gunung Mulia.
Rumini, S., Sundari, S. (2004). Perkembangan anak dan remaja. Jakarta: Rineka Cipta.
Sarwono, Wirawan, S. (2006). Psikologi remaja. Jakarta: Raja Grafindo Persada.




Selasa, 07 Oktober 2014

Refleksi Field Trip “Kampung Betawi” Kelompok Pelangi


Pada 3 Oktober 2014 sekitar pukul 10.00 kami tiba di kampung betawi. Terlihat dari lingkungan sekitar bahwa unsur 'betawi' sangat terlihat disana, seperti rumah rumah penduduk, jajanan jajanan yang di jual di sekitar tempat wisata, kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat, serta aksen berbicara masyarakat yang ada disana. Sungguh suasana yang berbeda jauh dengan keadaan di kota jakarta yang sangat padat. Tampak jelas sepertinya daerah perkampungan betawi tidak terkena unsur modernisasi, karena masih sangat tradisionalnya kehidupan masyarakat disana. Namun seperti yang kita ketahui sekarang, masyarakat lebih senang mengisi waktu libur mereka untuk pergi ke mall atau cafe, dari pada ke daerah wisata seperti kampung betawi. Otomatis dimana daerah tersebut menjadi sepi dan penghasilan para penjual semakin lama semakin menurun.
Kami pikir perlu peran besar dari pemerintah disini. Dimana untuk mengelolah tempat wisata betawi ini agar menarik untuk dikunjungi masyarakat, dan merawat warisan warisan betawi yang ada di dalamnya agar tidak hilang dengan seiring modernisasi berkembang.

Minggu, 05 Oktober 2014

KEBEBASAN


KEBEBASAN

      Jiwa dan kebebasan yaitu Eksistensi jiwa dalam tubuh memampukan manusia untuk menghadirkan diri secara total di dunia dan memungkinkan manusia menentukan perbuatannya. 

      Determinisme: aliran yang menolak kebebasan sebagai kenyataan hidup bagi manusia.
      Seluruh kegiatan manusia di dunia berjalan menurut keharusan yang bersifat deterministic:
o   Determinisme fisik-biologis
o   Determinisme psikologis
o   Determinisme sosial
o   Determinisme teologis 

      Pengertian khusus/kebebasan eksistensial:
  •  Penyempurnaan diri
  •  Kesanggupan memilih dan memutuskan
  • Kemampuan mengungkapkan berbagai dimensi kemanusiaan
      Jenis-jenis kebebasan :
  • Kebebasan horizontal dan kebebasan vertikal
  • Kebebasan eksistensial (kebebasan positif, lambang martabat manusia) dan kebebasan sosial (terkait dengan orang lain)
  • Nilai humanistik dalam kebebasan eksistensial :
o   Melibatkan pertimbangan
o   Mengedepankan nilai kebaikan
o   Menghidupkan otonomi
o   Menyertakan tanggung jawab 

      4 alasan adanya pembatasan kebebasan sosial:
  • Menyertakan pengertian
  • Memberi ruang bagi kebebasan eksistensial
  • Menjamin pelaksanaan keadilan bagi masyarakat
  • Terkait dengan hakikat manusia sebagai mahkhluk sosial

MANUSIA DAN AFEKTIVITASNYA


      Afektivitaslah yang membuat manusia ‘berada’ di dunia, berpartisipasi dengan orang lain. Afektifitaslah yang mendorong orang untuk mencintai, mengabdi dan menjadi kreatif.
 
      Cinta adalah buah afektivitas yang positif. 
 
      Benci adalah buah afektivitas negatif. Sebenarnya cintalah yang paling dasariah.
 
      Dibedakan ‘perasaan’ dan ‘emosi’.Kehidupan afektif memperlihatkan berbagai macam cara yang berbeda-beda  menurut bagaimana subyek menguasai obyek.
 
      Perbuatan afektif berbeda dengan ‘perbuatan mengenal’ karena perbuatan afektif itu lebih pasif, sedangkan pada ‘perbuatan mengenal’ subyek membuka diri pd obyek.
 
 

Jiwa dan Badan


Jiwa dan Badan

      Badan dan jiwa = satu kesatuan yang membentuk pribadi manusia. Kesatuan keduanya membentuk keutuhan pribadi manusia.

      Monisme adalah aliran yang menolak pandangan bahwa badan dan jiwa merupakan dua unsur yang terpisah. Badan dan jiwa adalah satu substansi.

      Dualisme adalah badan dan jiwa adalah dua elemen yg berbeda dan terpisah.

      Empat cabang:
1)    Interaksionisme  yaitu fokus pada hubungan timbal balik antara badan dan jiwa.
2)   Okkasionalisme  yaitu memasukkan dimensi ilahi dalam membicarakan hubungan badan dan jiwa.
3)    Paralelisme yaitu sistem kejadian ragawi terdapat di alam, sedangkan sistem kejadian kejiwaan ada pada jiwa manusia.
4)   Epifenomenalisme = melihat hubungan jiwa dan badan dari fungsi syaraf.

      Badan Manusia : Badan adalah elemen mendasar dalam membentuk pribadi manusia.
 
      KESIMPULAN
     Realitas manusiawi – realitas prinsipial terbentuk dari dua elemen, yaitu material dan spiritual. Badan dan jiwa adalah satu kesatuan yang membentuk eksitensi manusia. Jiwa tidak bisa berfungsi baik  kalau tidak ada badan. Badan manusia bukan mekanistik, tapi dinamika dari jiwa itu sendiri.